Jabatan Notaris Mudah Tergelincir

July 4th, 2009

Yogyakarta, Kompas - Notaris diminta selalu berpedoman pada kode etik profesi dan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. Ini karena jabatan notaris dinilai mudah tergelincir pada hal-hal yang merugikan dan melanggar kode etik profesi.

Hal itu diungkapkan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Andi Mattalatta dalam pidato kunci pada seminar tentang Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Sabtu (5/7) di Yogyakarta.

Kalau pengacara masih ada kontrol, misalnya oleh jaksa atau pengadilan saat menangani sebuah perkara, namun kalau notaris kontrol pihak luar lemah. Hubungan hanya dengan klien, ungkapnya. Karena itu, Ikatan Notaris Indonesia sebagai wadah notaris dituntut untuk selalu meningkatkan kualitas, baik ilmu, amal, maupun moral, serta menjunjung tinggi keluhuran martabat notaris.

Dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat harus senantiasa berpedoman kode etik profesi dan berdasarkan UU tentang Jabatan Notaris, yaitu UU Nomor 30 Tahun 2004, ujarnya. Untuk mencegah dan menghapus korupsi, kolusi dan nepotisme, serta suap sekaligus menciptakan tata kelola pemerintahan yang bersih, telah ditetapkan penggunaan teknologi informasi online pada seluruh notaris. Misalnya dalam pengurusan untuk memperoleh keputusan menteri mengenai pengesahan badan hukum perseroan, seperti diatur dalam UU Nomor 40/2007.

Keberadaan notaris dapat dipandang sebagai seorang figur yang sangat penting dan dibutuhkan oleh masyarakat karena keterangan- keterangan yang tertuang dalam akta notaris harus dapat dipercaya, diandalkan, dapat memberikan jaminan sebagai alat bukti yang kuat, dan dapat memberikan perlindungan hukum bagi para pihak yang memerlukan dikemudian hari, katanya.

Kepastian hukum

Andi menyebutkan, notaris adalah pilar utama dalam starting business di Indonesia. Ini karena, dalam berbagai hubungan bisnis, baik di perbankan, pertanahan, maupun kegiatan sosial, kebutuhan pembuktian tertulis berupa akta otentik semakin meningkat seiring perkembangan tuntutan kebutuhan masyarakat yang memerlukan kepastian hukum.

Melalui akta otentik yang dibuat oleh notaris dapat ditentukan secara jelas hak dan kewajiban untuk menjamin kepastian hukum sekaligus diharapkan terhindar dari silang sengketa, paparnya. Terkait UU 40/2007, Cholilah, Direktur Perdata Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Depkumham, menyatakan, UU itu lahir untuk mendukung terciptanya iklim berusaha yang kondusif di Indonesia. Misinya untuk mempersingkat waktu, menyederhanakan prosedur dan syarat, serta menurunkan biaya, ujarnya. (RWN)

sumber
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/07/09261216/jabatan.notaris.mudah.tergelincir.
Senin, 7 Juli 2008 | 09:26 WIB

Author: admin

Penerapan Sisminbakum Bebani Notaris

July 4th, 2009

Jakarta - Para notaris mengaku keberatan dengan diberlakukannya Sistem Administrasi Badan Hukum (Sisminbakum). Pasalnya, sistem ini mengakibatkan biaya akses pendirian badan hukum melonjak.

Hal ini disampaikan mantan Ketua Ikatan Notaris Indonesia Harun Kamil  saat menjadi saksi dalam sidang perkara Sisminbakum dengan tersangka mantan Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (Dirjen AHU) Depertemen Hukum dan HAM, Romli Atmakusuma.

Menurut Harun, sebelum pemberlakuan Sisminbakum, para notaris sudah menyatakan keberatan.  “Dulu dengan sistem manual hanya butuh biaya Rp 200 ribu untuk PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak), tetapi sekarang cek nama saja harus bayar sampai Rp 1 juta,” kata Harun dihadapan majelis hakim PN Jakarta Selatan, Senin (8/6).

Selain itu, lanjut Harun, para notaris juga tidak diajak berembuk untuk menentukan biaya tersebut. Tiba-tiba Romli mengeluarkan Surat Keputusan pada Maret 2001, yang isinya mengharuskan penggunaan sistem tersebut. Pada 12 Maret 2001 Sekretaris Kabinet (Seskab) Marsilam Simanjuntak sempat menegur pemberlakuan sistem tersebut karena dianggap menyalahi aturan PNBP.

Pada bulan Juni 2001, mantan Menteri Kehakiman dan HAM Yusril Ihza Mahendra mengeluarkan surat keputusan yang memperbolehkan menggunakan sistem manual, namun hanya berlaku selama satu tahun. “Ya setelah itu kembali ke sisminbakum lagi,” katanya.

Menanggapi kesaksian ini, Romli membantahnya. “Saya tidak pernah mendengar ada penolakan dari para notaris terkait sisminbakum,” katanya.

Rencananya Rabu (10/6) sidang yang dipimpin Syarial Sidik akan memeriksa rekanan Depkum, Dirut PT Sarana Rekatama Dinamika Yohanes Woworuntu yang saat ini ditahan di Rutan Salemba.

sumber
http://www.wartaone.com/articles/6543/1/Penerapan-Sisminbakum-Bebani-Notaris-/Halaman1.html
Senin, 08 Jun 2009 13:43 WIB

Author: admin

Presiden RI Buka Kongres Notaris

July 4th, 2009

notaris diberi wewenang untuk membuat akta-akta yang berkaitan dengan pertanahan. Ketentuan ini diharapkan lebih menjamin kewenangan notaris dan mendorong peningkatan pelayanan kepada masyarakat

Surabaya - Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dijadwalkan membuka Kongres Ikatan Notaris Indonesia (INI) ke-XX di Hotel JW Mariott Surabaya, Selasa (27/1).

Ketua Panitia Pelaksana Kongres Ikatan Notaris Indonesia (INI) ke-XX, Bambang Heru Juwito, di Surabaya, Senin, mengatakan kongres bakal berlangsung empat hari mulai 28 hingga 31 Januari.

Anggota Fraksi PAN DPRD Provinsi Jatim tersebut mengatakan kongres merupakan agenda rutin, yang akan membahas laporan pertanggujawaban pengurus pusat INI dan Dewan Kehormatan Pengurus (DKP), pemilihan Ketua Umum INI dan DKP periode 2009-2012 dan sidang komisi-komisi.

Bambang mengatakan sidang-sidang komisi membahas perubahan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, penyusunan garis besar program kerja serta rekomendasi dan kesatuan sikap.

“Anggota INI di seluruh Indonesia saat ini lebih dari 8000 orang, adapun yang hadir dalam kongres dperkirakan 2000 orang,” katanya.

Caleg PAN DPRD Jatim Dapil I ini mengatakan, dalam kongres akan direkomendasikan keinginan diberlakukannya pasal 15 ayat 2f Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Peraturan Jabatan Notaris.

“Dalam pasal tersebut notaris diberi wewenang untuk membuat akta-akta yang berkaitan dengan pertanahan. Ketentuan ini diharapkan lebih menjamin kewenangan notaris dan mendorong peningkatan pelayanan kepada masyarakat, karena pembuatan akta-akta yang berkaitan dengan pertanahan akhirnya dapat dibuat dalam ‘in minuta’ maupun ‘in originali’ atau dengan blanko PPAT,” katanya.

Ini berarti, lanjut Bambang, walaupun nanti pasal tersebut diberlakukan sesungguhnya PPAT tetap eksis.

Kongres XX INI mengambil tema dengan kongres serta pembekalan dan penyegaran pengetahuan kita tingkatkan profesionalitas notaris dalam peran serta meningkatkan investasi di Indonesia.

“Guna mendorong terwujudnya harapan tersebut dan sekaligus merupakan keputusan perkumpulan, dalam kongres sekaligus diadakan pembekalan pengetahuan,” katanya.

Sejumlah materi yang akan diberikan, di antaranya tentang kenotariatan, tentang Sisminbakum, kebatalan akta, tentang “maatschap”, perjanjian kredit, perpajakan, waris dan kajian-kajian hukum dengan nanasumber Menteri Hukum dan HAM serta jajarannya, Dirjen pajak, Bank Indonesia dan lainnya.

sumber :
http://www.antarajatim.com/lihat/berita/7597/Presiden_RI_Buka_Kongres_Notaris
Senin, 26 Jan 2009 14:06:05 pada Beranda Hukum

Author: admin

Pasal-pasal krusial dalam Peraturan KBPN Nomor 1 Tahun 2006

June 16th, 2009

PERATURAN KEPALA BPN NOMOR 1 TAHUN 2006
Peraturan Pelaksana PP 37 Tahun 1998 ttg PPAT

Berikut adalah kutipan pasal-pasal krusial bagi pelaksanaan jabatan PPAT

BAB VII
HAK DAN KEWAJIBAN PPAT
Bagian Kesatu
Hak PPAT

Pasal 36
PPAT mempunyai hak :
a. cuti;
b. memperoleh uang jasa (honorarium) dari pembuatan akta sesuai Pasal 32 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998;
c. memperoleh informasi serta perkembangan peraturan perundang undangan
pertanahan;
d. memperoleh kesempatan untuk mengajukan pembelaan diri sebelum ditetapkannya keputusan pemberhentian sebagai PPAT.

Pasal 37
(1) PPAT dapat melaksanakan cuti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 huruf a sebagai berikut :
a. cuti tahunan paling lama 2 (dua) minggu setiap tahun takwim;
b. cuti sakit termasuk cuti melahirkan, untuk jangka waktu menurut keterangan dari dokter yang berwenang;
c. cuti karena alasan penting dapat diambil setiap kali diperlukan dengan jangka waktu paling lama 9 (sembilan) bulan dalam setiap 3 (tiga) tahun takwim.
(2) Untuk dapat melaksanakan cuti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf c, PPAT yang baru diangkat dan diangkat kembali harus sudah membuka kantor PPATnya minimal 3 (tiga) tahun.
(3) Untuk melaksanakan cuti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperlukan persetujuan sebagai berikut :
a. untuk cuti yang lamanya kurang dari 3 (tiga) bulan dengan persetujuan Kepala Kantor Pertanahan setempat;
b. untuk cuti yang lamanya 3 (tiga) bulan atau lebih tetapi kurang dari 6 (enam) bulan dengan persetujuan Kepala Kantor Wilayah setempat;
c. untuk cuti yang lamanya 6 (enam) bulan atau lebih dengan persetujuan Kepala Badan.

Pasal 38
(1) Permohonan persetujuan untuk melaksanakan cuti diajukan secara tertulis oleh PPAT yang bersangkutan kepada pejabat yang berwenang memberi persetujuan cuti :
a. paling lambat 15 (lima belas) hari kerja sebelum tanggal mulai pelaksanaan cuti, kecuali permohonan cuti sakit yang dapat diajukan sewaktu-waktu sesudah diperoleh keterangan dokter;
b. dalam hal permohonan cuti diajukan kurang dari waktu sebagaimana dimaksud pada huruf a atau melampaui tanggal mulai pelaksanaan cuti, maka keputusan cuti diberlakukan surut.
(2) Permohonan cuti harus mencantumkan lamanya cuti, tanggal mulai pelaksanaan dan berakhirnya cuti, alasan pengambilan cuti, daftar cuti yang telah dilaksanakan dalam 3 (tiga) tahun terakhir dan alamat selama menjalankan cuti.
(3) Dalam hal PPAT menjalankan cuti, maka permohonan cuti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat disertai dengan usul pengangkatan PPAT Pengganti, kecuali di daerah kerja tersebut sudah terdapat PPAT lain yang diangkat oleh Kepala Badan.
(4) Permohonan usul pengangkatan PPAT Pengganti sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilampiri dengan:
a. fotocopy KTP calon PPAT Pengganti yang masih berlaku;
b. salinan atau fotocopy surat pengangkatan atau perjanjian kerja calon PPAT Pengganti sebagai pegawai PPAT yang bersangkutan;
c. fotocopy ijazah Sarjana Hukum calon PPAT Pengganti; dan
d. berita acara pengangkatan sumpah jabatan PPAT Pengganti apabila yang diusulkan sebagai PPAT Pengganti pernah menggantikan PPAT yang bersangkutan di daerah kerja yang sama.
(5) PPAT Pengganti yang diusulkan harus memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998, berusia sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) tahun dan belum berumur 65 (enam puluh lima) tahun sampai dengan batas akhir masa jabatan PPAT Pengganti.
(6) Sebelum melaksanakan cuti, PPAT wajib menutup Buku Daftar Akta dan melaporkan kepada Kepala Kantor Pertanahan setempat dan selama cuti yang bersangkutan tidak perlu membuat laporan bulanan.

Pasal 39
(1) Pejabat yang berwenang memberikan persetujuan cuti wajib memberikan persetujuannya mengenai permohonan cuti yang sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 37 ayat (1) dan ayat (2) apabila :
a. jumlah PPAT di daerah kerja yang bersangkutan lebih dari 50% (lima puluh persen) dari formasi PPAT; atau
b. alasan pengambilan cuti adalah karena sakit; atau
c. permohonan persetujuan tersebut disertai dengan usulan pengangkatan PPAT Pengganti.
(2) Penolakan pemberian persetujuan cuti yang sesuai ketentuan dalam Pasal 37 ayat (1) dan ayat (2) hanya dapat dilakukan oleh pejabat yang berwenang apabila jumlah PPAT di daerah kerja PPAT yang bersangkutan tidak lebih dari 50% (lima puluh persen) dari formasi PPAT, sedangkan pemberian cuti dikhawatirkan akan menghambat
pelayanan kepada masyarakat.
(3) Penolakan atau persetujuan cuti harus diterbitkan oleh pejabat yang berwenang dalam waktu 7 (tujuh) hari sejak tanggal diterimanya permohonan persetujuan cuti dengan ketentuan bahwa dalam hal penolakan cuti, maka pemberitahuannya harus disertai alasan penolakan tersebut.
(4) Dalam hal penolakan atau persetujuan tersebut tidak dikeluarkan dalam tenggang waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3), maka cuti tersebut dianggap sudah disetujui sepanjang cuti tersebut sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 37 ayat (1) dan (2).

Pasal 40
(1) Persetujuan untuk menjalankan cuti PPAT diberikan dengan keputusan pejabat yang berwenang yang dibuat menurut contoh sebagaimana tercantum dalam Lampiran V.
(2) Dalam hal pengajuan permohonan persetujuan cuti disertai usul pangangkatan PPAT Pengganti sebagaimana dimaksud pada Pasal 38 ayat (3), maka pangangkatan PPAT Pengganti dilakukan sekaligus dalam keputusan persetujuan cuti.
(3) Keputusan ijin pelaksanaan cuti berikut pengangkatan PPAT Pengganti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) disampaikan kepada PPAT yang bersangkutan atau kuasanya dan kepada PPAT Pengganti serta salinannya disampaikan kepada :
1. Pejabat yang berwenang memberi ijin cuti lainnya;
2. Bupati/Walikota yang bersangkutan.

Pasal 41
(1) PPAT Pengganti melaksanakan tugas jabatannya sebagai pengganti PPAT yang menjalankan cuti setelah diterbitkan keputusan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (2) dan setelah yang bersangkutan mengangkat sumpah jabatan.
(2) Dalam hal PPAT Pengganti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah orang yang pernah melaksanakan tugas jabatan sebagai PPAT Pengganti untuk PPAT yang sama di daerah kerja yang sama, maka dalam melaksanakan tugas jabatannya yang bersangkutan tidak perlu mengangkat sumpah jabatan PPAT.
(3) Sebelum melaksanakan tugasnya PPAT Pengganti wajib menerima protokol PPAT dari PPAT yang digantinya.
(4) Dalam hal PPAT yang melaksanakan cuti berhalangan untuk menyerahkan protokol PPAT kepada PPAT Pengganti, maka serah terima protokol PPAT dilakukan oleh kuasa dari PPAT kepada PPAT Pengganti dengan disaksikan oleh 2 (dua) orang saksi.
(5) Dalam hal PPAT yang digantikan meninggal dunia sebelum berakhirnya masa cuti dan telah ditunjuk PPAT Pengganti maka kewenangan PPAT Pengganti tersebut dengan sendirinya berakhir.
(6) Dalam menjalankan tugas jabatannya, ketentuan yang berlaku pada PPAT berlaku pula terhadap PPAT Pengganti.
(7) PPAT Pengganti bertanggung jawab secara pribadi atas pelaksanaan tugas jabatannya.
(8) Kewajiban PPAT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 berlaku pula bagi PPAT Pengganti.

Pasal 42
(1) PPAT wajib melaporkan berakhirnya pelaksanaan cuti kepada Kepala Kantor Pertanahan setempat paling lambat 1 (satu) minggu setelah jangka waktu cutinya habis dan melaksanakan kembali tugas jabatannya.
(2) Sebelum masa cutinya habis, PPAT dapat mengakhiri masa cutinya dan melaksanakan tugas jabatannya kembali.
(3) Dalam hal tugas jabatan PPAT dilaksanakan oleh PPAT Pengganti, PPAT yang menjalani cuti melaksanakan kembali tugas jabatan PPAT setelah menerima protokol dari PPAT Pengganti.
(4) PPAT Pengganti wajib menyerahkan protokol PPAT Pengganti kepada PPAT yang mengakhiri cutinya dan siap melaksanakan tugasnya kembali.
(5) PPAT yang dalam waktu 2 (dua) bulan setelah berakhirnya cuti sesuai dengan persetujuan cuti tidak melaksanakan tugasnya kembali diberhentikan dengan hormat dari jabatannya sebagai PPAT.

Pasal 43
Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 sampai dengan Pasal 42 tidak berlaku bagi PPAT Sementara dan PPAT Khusus.

Pasal 44
(1) PPAT, Camat dan Kepala Kantor Pertanahan yang sedang menjalankan cuti dilarang membuat akta PPAT.
(2) Akta yang dibuat oleh PPAT, Camat atau Kepala Kantor Pertanahan yang sedang menjalankan cuti tidak dapat dijadikan dasar pendaftaran perubahan data pendaftaran tanah.
(3) Apabila larangan mengenai pembuatan akta oleh pejabat yang sedang menjalankan cuti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilanggar, maka segala akibat hukumnya menjadi tanggung jawab pribadi dari pembuat akta yang bersangkutan.

Bagian Kedua
Kewajiban PPAT
Pasal 45
PPAT mempunyai kewajiban :
a. menjunjung tinggi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia;
b. mengikuti pelantikan dan pengangkatan sumpah jabatan sebagai PPAT;
c. menyampaikan laporan bulanan mengenai akta yang dibuatnya kepada Kepala Kantor Pertanahan, Kepala Kantor Wilayah dan Kepala Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan setempat paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya;
d. menyerahkan protokol PPAT dalam hal :
1. PPAT yang berhenti menjabat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) dan ayat (2) kepada PPAT di daerah kerjanya atau kepada Kepala Kantor Pertanahan;
2. PPAT Sementara yang berhenti sebagai PPAT Sementara kepada PPAT Sementara yang menggantikannya atau kepada Kepala Kantor Pertanahan;
3. PPAT Khusus yang berhenti sebagai PPAT Khusus kepada PPAT Khusus yang menggantikannya atau kepada Kepala Kantor Pertanahan.
e. membebaskan uang jasa kepada orang yang tidak mampu, yang dibuktikan secara sah;
f. membuka kantornya setiap hari kerja kecuali sedang melaksanakan cuti atau hari libur resmi dengan jam kerja paling kurang sama dengan jam kerja Kantor Pertanahan setempat;
g. berkantor hanya di 1 (satu) kantor dalam daerah kerja sebagaimana ditetapkan dalam keputusan pengangkatan PPAT;
h. menyampaikan alamat kantornya, contoh tanda tangan, contoh paraf dan teraan cap/stempel jabatannya kepada Kepala Kantor Wilayah, Bupati/ Walikota, Ketua Pengadilan Negeri dan Kepala Kantor Pertanahan yang wilayahnya meliputi daerah kerja PPAT yang bersangkutan dalam waktu 1 (satu) bulan setelah pengambilan sumpah jabatan;
i. melaksanakan jabatan secara nyata setelah pengambilan sumpah jabatan;
j. memasang papan nama dan menggunakan stempel yang bentuk dan ukurannya ditetapkan oleh Kepala Badan;
k. lain-lain sesuai peraturan perundang-undangan.

BAB VIII
PALAKSANAAN JABATAN PPAT
Bagian Kesatu

Kantor PPAT
Pasal 46
(1) PPAT wajib berkantor di 1 (satu) kantor dalam daerah kerjanya sebagaimana ditetapkan dalam keputusan pengangkatannya atau penunjukan dari Kepala Badan atau pejabat yang ditunjuk.
(2) Dalam hal PPAT merangkap jabatan sebagai Notaris, maka kantor tempat melaksanakan tugas jabatan PPAT wajib di tempat yang sama dengan kantor Notarisnya.
(3) Selain berkantor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) PPAT tidak dibenarkan membuka kantor cabang atau perwakilan atau bentuk lainnya yang terletak di luar dan atau di dalam daerah kerjanya dengan maksud menawarkan jasa kepada masyarakat.

Pasal 47
(1) Kantor PPAT wajib dibuka setiap hari kerja kecuali pada hari libur resmi dengan jam kerja paling kurang sama dengan jam kerja Kantor Pertanahan setempat.
(2) Apabila dianggap perlu PPAT dapat membuka kantornya di luar jam kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam rangka memberikan pelayanan pembuatan akta pada masyarakat.
3) Dalam hal PPAT sedang melaksanakan cuti dan tidak menunjuk PPAT Pengganti, kantor PPAT yang bersangkutan wajib dibuka setiap hari kerja untuk melayani masyarakat dalam pemberian keterangan, salinan akta yang tersimpan sebagai protokol PPAT.

Bagian Kedua
Stempel Jabatan PPAT
Pasal 48
(1) Stempel jabatan PPAT diterakan pada setiap tanda tangan PPAT, akta, salinan akta, surat dan dokumen lain yang merupakan produk dari PPAT yang bersangkutan.
(2) Bentuk dan ukuran stempel jabatan PPAT, PPAT Pengganti dan PPAT Sementara adalah sebagaimana contoh yang tercantum dalam Lampiran VI yang rinciannya adalah sebagai berikut :
a. Bentuk :
Bulat, terdapat 2 (dua) lingkaran, di tengah lingkaran dalam untuk nama PPAT atau PPAT Pengganti atau tulisan Camat atau Kepala Desa.
b. Tulisan dalam stempel :
1. untuk PPAT atau PPAT Pengganti, lingkaran luar bagian atas ditulis “PEJABAT PEMBUAT AKTA TANAH” atau “PPAT PENGGANTI” dan lingkaran luar bagian bawah ditulis
daerah kerja nama Kabupaten/Kota yang dibatasi dengan gambar bintang;
2. untuk PPAT Sementara, lingkaran luar bagian atas ditulis “PPAT SEMENTARA” dan lingkaran luar bagian bawah ditulis daerahkerja PPAT Sementara “Kecamatan atau Desa”
yang dibatasi dengan gambar bintang;
3. warna tinta stempel : Merah.
c. Ukuran :
1. bulatan luar dengan garis tengah 31/2 cm, dibuat dalam garis lingkar rangkap yang sebelah luar agak menebal sedangkan yang di dalam dengan garis lebih tipis dan bergaris tengah lebih kecil. Jarak antara kedua bulatan adalah 1 mm.
2. bulatan dalam dengan garis tengah 2 cm, dibuat dengan garis lingkar tunggal.
3. di antara bulatan luar dan dalam, di bagian tengah bawah terdapat 2 (dua) lukisan bintang bersudut 5 (lima) dengan ukuran garis tengah 3 mm.
4. Dalam ruang bulatan terdapat ruang yang dibatasi oleh 2 (dua) garis lurus mendatar sejajar dengan jarak satu sama lain 1 1/2 cm yang ditulis dengan huruf kapital :
a) Nama PPAT atau PPAT Pengganti; atau
b) tulisan Camat; atau
c) tulisan Kepala Desa.
5. Sebelah atas maupun bawah dari ruang angka 4 di atas terlukis garis-garis tegak lurus dengan jarak antara garis satu dengan yang lainnya sebesar 1 mm.
(3) PPAT Khusus yang dijabat oleh Kepala Kantor Pertanahan menggunakan stempel Kantor Pertanahan dalam melaksanakan tugasnya sebagai PPAT Khusus.
(4) Wakil Camat atau Sekretaris Desa yang membuat akta untuk keperluan pihak-pihak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor37 Tahun 1998 mempergunakan stempel jabatan yang dipergunakan PPAT Sementara yang
bersangkutan.

Bagian Ketiga
Papan Nama dan Kop Surat PPAT
Pasal 49
(1) Bentuk dan Ukuran Papan Nama Jabatan PPAT dan PPAT Sementara yang dijabat oleh Camat dan/atau Kepala Desa adalah seperti contoh sebagaimana tercantum dalam Lampiran VII dengan rincian sebagai berikut :
a. Ukuran : 100 x 40 cm atau 150 x 60 cm atau 200 x 80 cm;
b. Warna : Dasar dicat putih, tulisan hitam;
c. Bentuk huruf : Cetak kapital (huruf besar), untuk nama dipergunakan huruf yang lebih besar.
(2) Dalam hal pemasangan papan nama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dapat dilakukan karena kesulitan tempat, pemasangan papan jabatan dilakukan pada tempat yang memungkinkan dan dapat dibaca oleh umum sepanjang masih dalam lingkungan gedung tempat kantor PPAT dimaksud.

Pasal 50
Kop surat jabatan PPAT dibuat seperti contoh sebagaimana tercantum pada Lampiran VIII dengan ketentuan sebagai berikut :
a. kop surat jabatan PPAT dicantumkan di bagian atas sebelah kiri dari kertas surat dan sampul dinas PPAT;
b. tidak dibenarkan menulis jabatan lain kecuali jabatan PPAT;
c. kop surat jabatan PPAT dibuat dengan warna hitam.

Bagian Keempat
Blanko Akta dan Pembuat Akta
Pasal 51
Blanko akta PPAT dibuat dan diterbitkan oleh Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia dan hanya boleh dibeli oleh PPAT, PPAT Pengganti, PPAT Sementara atau PPAT Khusus.

Pasal 52
(1) PPAT melaksanakan tugas pembuat akta PPAT di kantornya dengan dihadiri oleh para pihak dalam perbuatan hukum yang bersangkutan atau kuasanya sesuai peraturan perundang-undangan.
(2) PPAT dapat membuat akta di luar kantornya hanya apabila salah satu pihak dalam perbuatan hukum atau kuasanya tidak dapat datang di kantor PPAT karena alasan yang sah, dengan ketentuan pada saat pembuatan aktanya para pihak harus hadir dihadapan PPAT di tempat pembuatan akta yang disepakati.

Pasal 53
(1) Akta PPAT dibuat dengan mengisi blanko akta yang tersedia secara lengkap sesuai petunjuk pengisiannya.
(2) Pengisian blanko akta dalam rangka pembuatan akta PPAT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan sesuai dengan kejadian, status dan data yang benar serta didukung dengan dokumen sesuai peraturan perundang-undangan.
(3) pembuatan akta PPAT dilakukan dengan disaksikan oleh 2 (dua) orang saksi yang memberi kesaksian mengenai :
a. identitas dan kapasitas penghadap;
b. kehadiran para pihak atau kuasanya;
c. kebenaran data fisik dan data yuridis obyek perbuatan hukum dalam hal obyek tersebut sebelum terdaftar;
d. keberadaan dokumen yang ditunjukkan dalam pembuatan akta;
e. telah dilaksanakannya perbuatan hukum tersebut oleh para pihak yang bersangkutan.
(4) Yang dapat menjadi saksi adalah orang yang telah memenuhi syarat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Pasal 54
(1) Sebelum pembuatan akta mengenai perbuatan hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a sampai dengan huruf g, PPAT wajib melakukan pemeriksaan kesesuaian/keabsahan sertipikat dan catatan lain pada Kantor Pertanahan setempat dengan menjelaskan maksud dan tujuannya.
(2) Dalam pembuatan akta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) PPAT tidak diperbolehkan memuat kata-kata“sesuai atau menurut keterangan para pihak” kecuali didukung oleh data formil.
(3) PPAT berwenang menolak pembuatan akta, yang tidak didasari data formil.
(4) PPAT tidak diperbolehkan membuat akta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a sampai dengan huruf g, atas sebagian bidang tanah yang sudah terdaftar atau tanah milik adat, sebelum diukur oleh Kantor Pertanahan dan diberikan Nomor Identifikasi Bidang Tanah (NIB).
(5) Dalam pembuatan akta, PPAT wajib mencantumkan NIB dan atau nomor hak atas tanah, nomor Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT) PBB, penggunaan dan pemanfaatan tanah sesuai dengan keadaan lapangan.

Pasal 55
PPAT bertanggung jawab secara pribadi atas pelaksanaan tugas dan jabatannya dalam setiap pembuatan akta.

Bagian Kelima
Buku Daftar Akta PPAT
Pasal 56
(1) PPAT wajib membuat daftar akta dengan menggunakan 1 (satu) buku daftar akta untuk semua jenis akta yang dibuatnya, yang di dalamnya dicantumkan secara berurut nomor semua akta yang dibuat berikut data lain yang berkaitan dengan pembuatan akta, dengan kolom-kolom sebagaimana dimaksud dalam contoh pada Lampiran IX.
(2) Buku daftar PPAT diisi setiap hari kerja PPAT dan ditutup setiap akhir hari kerja yang sama dengan garis tinta hitam dan diparaf oleh PPAT pada kolom terakhir dibawah garis penutup.
(3) Apabila pada hari kerja yang bersangkutan tidak terdapat akta yang dibuat, maka dicantumkan kata “Nihil”, disamping tanggal pencatatan dimaksud.
(4) Pada akhir kerja terakhir setiap bulan, daftar akta PPAT ditutup dengan garis merah dan tanda tangan serta nama jelas PPAT, dengan catatan di atas tanda tangan tersebut yang berbunyi sebagai berikut :
“Pada hari ini …. tanggal …. daftar akta ini ditutup oleh saya, dengan catatan dalam bulan ini telah dibuat …. (….) buah akta”
(5) Dalam hal PPAT menjalankan cuti, diberhentikan untuk sementara atau berhenti dari jabatannya, maka pada hari terakhir jabatannya itu PPAT yang bersangkutan wajib menutup daftar akta dengan garis merah dan tanda tangan serta nama jelas dengan catatan di atas tanda tangan tersebut yang berbunyi sebagai berikut :
“Pada hari ini …. tanggal …. Daftar akta ini ditutup oleh saya, karena menjalankan cuti/berhenti untuk sementara/berhenti.”
(6) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (5) berlaku juga bagi PPAT Sementara dan PPAT Pengganti.

Pasal 57
(1) Buku daftar akta harus diisi secara lengkap dan jelas sesuai kolom yang ada sehingga dapat diketahui hal-hal yang berkaitan dengan pembuatan akta termasuk mengenai surat-surat yang berkaitan.
(2) Pengisian buku daftar akta dilakukan tanpa baris kosong yang lebih dari 2 (dua) baris.
(3) Dalam hal terdapat baris kosong lebih dari 2 (dua) baris, maka sela kosong tersebut ditutup dengan garis berbentuk : Z.

Bagian Keenam
Penjilidan Akta dan Warkah Pendukung Akta
Pasal 58
(1) Akta otentik, surat dibawah tangan, atau dokumen lainnya yang dipakai sebagai dasar bagi penghadap sebagai pihak dalam perbuatan hukum yang dibuatkan aktanya dinyatakan dalam akta yang bersangkutan dan dilekatkan atau dijahitkan pada akta yang disimpan oleh PPAT.
(2) Akta otentik, surat dibawah tangan, atau dokumen lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah :
a. akta atau surat kuasa dari pihak yang berwenang melaksanakan perbuatan hukum;
b. akta atau surat persetujuan yang menurut peraturan diperlukan sebagai dasar kewenangan penghadap atau yang memberi kuasa kepada penghadap untukmelakukan perbuatan hukum, misalnya persetujuan suami atau isteri mengenai tanah kepunyaan
bersama;
c. akta atau surat yang memuat bentuk pemberian kewenangan lain;
d. surat atau peta yang menjelaskan obyek perbuatan hukum yang bersangkutan.

Pasal 59
(1) Akta PPAT berikut akta otentik, surat dibawah tangan, atau dokumen lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 dijilid dalam 1 (satu) sampul yang berisi 50 (lima puluh) akta.
(2) Penjilidan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sebulan sekali, dengan ketentuan :
a. apabila jumlah akta yang dibuat dalam bulan tersebut lebih dari 50 (lima puluh) buah atau kelipatannya, maka kelebihan akta tersebut dijilid sebagai jilid terakhir dalam bulan yang bersangkutan;
b. apabila jumlah akta yang dibuat dalam bulan tersebut kurang dari 50 (lima puluh) buah, maka akta-akta tersebut dijilid sebagai satu-satunya jilid akta dalam bulan yang bersangkutan.

Pasal 60
(1) Warkah yang merupakan dokuman yang dijadikan dasar pembuatan akta, selain akta otentik, surat dibawah tangan, atau dokumen lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58, dijilid tersendiri dalam bundel warkah pendukung yang masing-masing berisi warkah pendukung untuk 25 (dua puluh lima) akta.
(2) Penjilidan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setiap bulan, dengan ketentuan :
a. apabila jumlah akta yang dibuat dalam bulan tersebut lebih dari 25 (dua puluh lima) buah atau kelipatannya, warkah pendukung untuk kelebihan akta tersebut dijilid sebagai jilid warkah pendukung terakhir dalam bulan yang bersangkutan;
b. apabila jumlah akta yang dibuat dalam bulan tersebut kurang dari 25 (dua puluh lima) buah, maka warkah pendukung untuk akta-akta tersebut dijilid sebagai satu-satunya jilid warkah pendukung akta dalam bulan yang bersangkutan.
(3) Pada punggung sampul bundel warkah pendukung dituliskan nomor nomor akta yang telah dibuat berdasarkan dokumen itu dengan menuliskan nomor terkecil dan yang terbesar dengan tanda strip (-) diantaranya, berikut tulisan “warkah” didepan nomor terkecil serta tahun pembuatan aktanya mengikuti garis miring (/) dibelakang
nomor besar.

Pasal 61
(1) PPAT wajib menyampaikan akta PPAT dan dokumen-dokumen lain yang diperlukan untuk keperluan pendaftaran akta perbuatan hukum yang dibuatnya kepada Kepala Kantor Pertanahan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak ditandatangani akta yang bersangkutan.
(2) Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pelanggaran administratif.

Bagian Ketujuh
Laporan Bulanan PPAT
Pasal 62
(1) PPAT wajib menyampaikan laporan bulanan mengenai semua akta yang dibuatnya paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya kepada Kepala Kantor Pertanahan dan Kepala Kantor Wilayah.
(2) PPAT wajib menyampaikan laporan bulanan mengenai Akta Jualbeli, Akta Tukar Menukar, Akta Hibah, Akta Pemasukan Ke Dalam Perusahaan, Akta Pembagian Hak Bersama, Akta Pemberian Hak Guna Bangunan Atas Tanah Hak Milik, dan Akta Pemberian Hak Pakai Atas Tanah Hak Milik kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak
Bumi dan Bangunan dan Kepala Kantor Pelayanan Pajak.
(3) Penyampaian laporan sebagimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan melalui jasa pengiriman atau diantar langsung ke alamat instansi yang dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).
(4) Penyampaian laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dibuktikan dengan tanda penerimaan oleh perusahaan jasa pengiriman atau tanda penerimaan oleh instansi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), yang bertanggal paling lambat
tanggal 10 bulan berikut dari bulan laporan.

Pasal 63
Laporan bulanan PPAT dibuat sebagaimana dimaksud pada contoh dan ketentuan dalam Keputusan Bersama Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional dan Direktur Jenderal Pajak Nomor : SKB 2 Tahun 1998 KEP-179/PJ./1998

Pasal 64
(1) Dalam hal PPAT Pengganti mulai melaksanakan tugasnya tidak pada awal bulan dan berlangsung hingga kewajiban melapor dimaksud terbit, PPAT Pengganti berkewajiban menyampaikan laporan bulanan PPAT termasuk mengenai pelaksanaan tugas PPAT yang
digantikannya.
(2) Dalam hal PPAT Pengganti mengakhiri tugasnya tidak pada awal bulan, PPAT yang digantikan wajib menyampaikan laporan bulanan PPAT Pengganti.
(3) Dalam hal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) atau dalam hal PPAT Pengganti melaksanakan tugas tersendiri dengan penuh pada bulan yang bersangkutan hingga terbit kewajiban melapor, dalam pengisian laporan nama PPAT ditulis dengan nama PPAT Pengganti dan PPAT yang digantikan dengan ditambah kata “pengganti dari”
antara kedua nama tersebut.

Author: admin

Tuduhan Money Politics tak Terbukti

June 16th, 2009

WAKIL Ketua Bidang Pembangunan Daerah & Pemerintahanan DPC PDI Perjuangan Kabupaten Lumajang, Wahyono bersyukur, tudingan money politics terhadap dirinya dalam Pemilu Legislatif (Pileg) 9 April lalu tidak terbukti. Majelis Hakim Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya menyatakan, Wahyono tidak terbukti melakukan tindak pidana pemilu.

Wahyono yang memperoleh tiket ke gedung DPRD Lumajang 2009-2014 ini diputus bebas. Sebelumnya Pengadilan Negeri (PN) Lumajang menghukum terdakwa 6 bulan penjara dan denda Rp 6 juta.

“Saya sudah yakin, tuduhan Panwaslu tidak benar. Karena kami menjauh segala bentuk politik kotor untuk meraup suara. Ini kemenangan PDI Perjuangan dan rakyat kecil,” kata Wahyono, Rabu (3/6).

Wahyono yang selama ini duduk di komisi C DPRD Lumajang mengungkapkan terima kasihnya kepada semua pihak yang mendukungnya. Seperti Ketua DPRD Lumajang Agus Yudha Wicaksono yang juga Sekretaris DPC PDI Perjuangan yang selalu memberikan dukungan moral.

Putusan bebas Wahyono tertuang dalam surat Majelis Hakim PT Surabaya nomor 244 tahun 2009 tertanggal 15 Mei 2009, sebagaimana dituturkan humas PN Lumajang Yogi Arsono, SH diterima PN Lumajang tanggal 29 Mei 2009. Dalam amar putusannya, majelis hakim menyatakan terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pemilu.

Majelis hakim membebaskan seluruh dakwaan penuntut umum, memulihkan hak terdakwa baik dalam kemampuan, kedudukan, harkat serta martabat dalam keadaan semula. Bahkan Caleg di Dapil 2 Kabupaten Lumajang itu tidak dibebani biaya perkara persidangan.

Alasan membebaskan terdakwa, menurut Yogi, karena PT menilai secara jude facti, PN Lumajang telah melakukan cara peradilan tidak semestnya. Karena hanya mendasarkan pada keterangan saksi-saksi yang tidak memenuhi syarat undang-undang sebagai saksi/sebagaimana pasal 189 ayat 1 KUHAP.

“Majelis hakim juga mempertimbangkan surat pernyataan dari Misnatun dan Hosnan yang ditandatangani di atas akte notaris Sonya Natalia di Surabaya tertanggal 17 Mei 2009 atau 2 hari setelah pembacaan putusan yang intinya menyangkal surat pernyataan yang dibacakan dalam persidangan di PN,” ungkap Yogi.

Disinggung kejanggalan majelis hakim yang mendasarkan putusan pada surat pernyataan saksi yang diajukan terdakwa 2 hari setelah putusan, Yogi mengaku tidak mengerti. Karena Majelis Hakim PN Lumajang tidak dilibatkan dalam persidangan di PT Surabaya. (hp)

sumber :
http://www.pdiperjuangan-jatim.org/v03/index.php?mod=berita&id=2564
Rabu, 03 Juni 2009 diposting pada kategori BERITA CABANG

Author: admin

Pengurus Daerah I.P.P.A.T Surabaya Periode 2007-2010

June 16th, 2009

PENGURUS DAERAH
I.P.P.A.T SURABAYA
PERIODE 2007-2010

KETUA : BAMBANG HERU DJUWITO, SH. MH.
WAKIL KETUA I : S. ANGGRAENIE HAPSARI, SH.
WAKIL KETUA II : DR. A.A. ANDI PRAJITNO, SH. MKN.
SEKRETARIS : WIMPHRY SUWIGNJO, SH.
WAKIL SEKREATRIS : ANGGRAENI SARI MEGAWATI, SH.
BENDAHARA : SRI WAHJU DJATMIKOWATI, SH. MH.
WAKIL BENDAHARA : KHUSNUL YAQIN, SH.

SEKSI-SEKSI :
1. SEKSI ORGANISASI & PEMBINAAN ANGGOTA :
KOORDINATOR : NIES SINGGIH MUKTININGSIH, SH.
ANGGOTA : AGNES NINIK MUTIARA, SH.
YUIDA, SH.
M. BUDI PAHLAWAN, SH.
MADE DIANTI S, SH.

2. SEKSI PENGAYOMAN HUKUM :
KOORDINATOR : RUDY SETIA WABISONO, SH.
ANGGOTA : YATININGSIH, SH.
AGUS DJAYA SUTEDJA, SH.
SUJADI, SH.
YUSTIANA, SH.

3. SEKSI HUBUNGAN MASYARAKAT & HUBUNGAN ANTAR LEMBAGA :
KOORDINATOR : RENY WIDJAJANTI, SH.
ANGGOTA : RITA TIURIDA ARIANI, SH.
RUSDY MULYONO, SH.
HENDRICUS CAROLES, SH.

4. SEKSI DANA & USAHA SERTA KESEJAHTERAAN ANGGOTA :
KOORDINATOR : ISY KARIMAH SYAKIR, SH.
ANGGOTA : NATALYA YAHYA PUTERI W, SH.
SRI AMPENI SWANDAJANI, SH.
RANTI ARTSILIA, SH.

5. SEKSI PENDIDIKAN, LATIHAN DAN PENGEMBANGAN :
KOORDINATOR : GATOT TRI WALUYO, SH.
ANGGOTA : CHANDRA TANDYA, SH. MH.
JAMES RIDWAN EFFERIN, SH.
JOVITA DAMAYANTI, SH.
HERMAN SUSILO, SH.

6. SEKSI KESENIAN & OLAHRAGA :
KOORDINATOR : SOEPRAYITNO, SH.
ANGGOTA : AGUS HARYANTO, SH.
YULI ENDAH WARDANTIK, SH.
EVA FITRI, SH.
LUCIA SURYANI, SH.

7. SEKSI PENERBITAN & MASS MEDIA :
KOORDINATOR : JUSUF PATRIANTO TJAHJONO, SH.
ANGGOTA : USNAENI ULLY AZIS, SH.
FACHRIA L., SH.
DIAN SILVIANA, SH.
SONYA NATALIA, SH.

Author: admin

Hukum Merek : Cara Mudah Mempelajari Undang-Undang Merek

June 16th, 2009

hukum-merek

Penulis : Dr. Ahmad Miru, S.H., M.S.
Penerbit : Rajawali Pers
Cetakan : I/2005
ISBN : 979-3654-101-3
Halaman : 169

Daftar Isi

BAB I Ketentuan Umum
BAB II Lingkup Merek
BAB III Permohonan Pendaftaran Merek
BAB IV Pendaftaran Merek
BAB V Pengalihan Hak atas Merek Terdaftar
BAB VI Merek Kolektif
BAB VII Indikasi-Geografis dan Indikasi-Asal
BAB VIII penghapusan dan Pembatalan Pendaftaran Merek
BAB IX Administrasi Merek
BAB X Biaya
BAB XI Penyelesaian Sengketa
BAB XII Penetapan Sementara Pengadilan
BAB XIII Penyidikan
BAB XIV Ketentuan Pidana
BAB XV Ketentuan Peralihan
BAB XVI Ketentuan Penutup
Lampiran

Author: admin

Pembuktian Sebagai Ahli Waris Dengan Akta Notaris …

June 16th, 2009

akta-keterangan-ahli-waris

Judul lengkap : Pembuktian Sebagai Ahli Waris Dengan Akta Notaris Dalam Bentuk Akta Keterangan Ahli Waris
Pengarang : DR. Habib Adjie, SH., M.Hum.
ISBN 978-979-538-337-6
Cetakan : I / 2008
Penerbit : Mandar Maju 2008
Halaman : X + 253 Hlm

Sampai sekarang ini di negara kita pembuktian sebagai ahli waris masih berdasarkan etnis/suku yang ada di negara kita ini, padahal Pasal 26 UUD 1945 telah menegaskan bahwa Negara Republik Indonesia dibangun tidak berdasarkan etnis/suku tertentu yang hidup di Indonesia, dan dalam Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 ditegaskan pula semua Warga Negara Indonesia mempunyai kedudukan yang sama di hadapan hukum, selanjutnya dalam Pasal 3, 4 dan 5 Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, bahwa setiap manusia dilahirkan bebas dengan harkat dan martabat manusia yang sama, berhak untuk memperoleh perlindungan hukum yang adil, tanpa ada diskriminasi, dan terakhir dalam Pasal 2 dan Penjelasannya Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Kewarganegaraan dan Pasal 3 Undang-undang Nomor 23 tentang Administrasi Kependudukan, yang menegaskan Bangsa Indonesia tidak berdasarkan etnis tertentu, tapi mereka yang sejak kelahirannya telah Warga Negara Indonesia. Dengan keberadaan aturan-aturan hukum tersebut sudah tidak pada tempatnya jika masih ada pembuktian sebagai ahli waris masih berdasarkan etnis/suku yang ada di bumi Indonesia, dan hal seperti itu sudah harus diakhiri karena tidak sesuai dengan cita-cita Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Substansi buku “Pembuktian Sebagai Ahli Waris Dengan Akta Notaris Dalam Bentuk Akta Keterangan Ahli Waris” ini menempatkan Notaris sebagai salah satu agen pembaharuan hukum, dengan segala kewenangan yang ada pada Jabatan Notaris berdasarkan Pasal 15 ayat (1) UUJN, dan berusaha untuk menempatkan Notaris sebagai satu-satunya institusi atau pejabat di Indonesia yang berwenang untuk membuat bukti ahli waris untuk seluruh penduduk dan Warga Negara Indonesia tidak berdasarkan etnis/suku, agama atau golongan penduduk apapun. Bukti sebagai ahli waris yang dibuat di hadapan Notaris dalam bentuk akta pihak sebagai pernyataan atau keterangan pihak yang diberikan di hadapan Notaris.

Kata pengantar
Daftar isi
BAB I Pendahuluan

BAB II Diskriminasi: Aturan hukum pembuatan bukti sebagai ahli waris

BAB III Diperlukan satu-satunya Institusi/Pejabat yang berwenang membuat bukti sebagai ahli waris

BAB IV Contoh akta keterangan ahli waris

BAB V Penutup
Daftar pustaka
Lampiran:
1. Undang-Undang No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris.
2. Undang-Undang No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan.
3. Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan

Author: admin

Studi Notariat dan Serba-Serbi Praktek Notaris

June 16th, 2009

serba-serbi-praktek-notaris

Penulis Tan Thong Kie
Penerbit PT. Ichtiar Baru Van Hoeve

Edisi revisi atas buku serupa yang telah terbit sebelumnya. Edisi terdahulu terdiri atas dua jilid: jilid 1 (1994) mengenai Orang dan jilid 2 (2000) mengenai Benda. Isi kedua jilid tersebut sesuai dengan urutan buku dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW), yakni Buku Pertama tentang Orang (Bagian Pertama) dan Buku Kedua tentang Benda (Bagian Kedua)

Edisi revisi ini (2007) adalah gabungan jilid 1 dan 2 (edisi terdahulu) dengan Bagian Ketiga (tentang Perikatan) ke dalam satu jilid. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pengguna buku untuk mendapatkan pengetahuan yang utuh mengenai ilmu kenotariatan dalam satu jilid lengkap.

Buku ini terdiri atas dua bagian besar, yakni Bagian Studi Notariat (pelajaran) dan Bagian Serba-Serbi (pengalaman notaris di lapangan). Pada akhir buku ini terdapat Indeks Umum yang memudahkan pengguna mencari topik yang dibutuhkan. Karena buku ini terutama mengupas hal-hal yang berkaitan dengan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, maka di bagian akhir buku terdapat Indeks Pasal Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang diangkat dalam buku ini. Buku ini juga dilengkapi dengan Suplemen, yakni naskah Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (S. 1847-23) dan UU 30/2004 tentang Jabatan Notaris.

Buku ini juga dilengkapi dengan Suplemen, yakni naskah Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (S. 1847-23) dan UU 30/2004 tentang Jabatan Notaris.

Buku ini ditujukan bagi mahasiswa yang sedang memperdalam ilmu kenotariatan dan para praktisi yang sehari-hari berkecimpung dalam dunia kenotariatan (notaris), untuk menjawab kebutuhan mahasiswa dan praktisi dunia kenotariatan (notaris) dan menjadi salah satu sumber referensi yang sahih sebagai pijakan dalam menjalankan pekerjaannya.

Tan Thong Kie, penulis buku ini, dulu adalah praktisi hukum di bidang notariat. Penulis dikenal sebagai notaris yang jujur dan cerdas, juga tekun dalam menulis. Dikatakan oleh H.W. Roeby dalam bukunya Het Notarisambt en de Notarieele Akte, bahwa seorang notaris itu seharusnya menjadi een baken in de maatschappelijke zee (”rambu dalam lautan masyarakat”).

Studi Notariat dan Praktek Notaris terdiri dari:
1 jilid
- 1.072 halaman
- 14 pelajaran bahasan Hukum Orang, Benda, dan Perikatan
- 32 bab bahasan praktek notaris
- 125 diagram dan foto sebagai ilustrasi
- 1.030 topik indeks umum
- 1.240 topik indeks pasal
2 suplemen (KUHPerd. dan UU Jabatan Notaris)

DATA FISIK:
Ukuran : 16,5 x 24 cm
Jumlah jilid : 1 jilid
Jumlah halaman : 1.072 halaman
Cover : hard cover luks
Kertas isi : HVS 80 gram

Author: admin

Sekilas Dunia Notaris & PPAT Indonesia

June 16th, 2009

sekilas-dunia-notaris-ppat

Pengarang: DR. Habib Adjie, SH., M.Hum.
ISBN 978-979-538-342-0
Cetakan: I / 2009
Penerbit Mandar Maju 2009
X + 208 Hlm

Dunia Notaris dan PPAT merupakan perpaduan antara teori dan praktek, dalam tataran yang ideal antara teori dan praktek sejalan atau terkadang tidak saling sejalan, artinya tidak selalu teori mendukung praktek. Substansi buku ini menyajikan suatu pemikiran dalam dunia Notaris dan PPAT sebagai bekal dalam menjalankan tugas jabatan sebagai Notaris dan PPAT.

Dunia Notaris harus dibangun tidak saja diambil dan dikembangkan oleh atau dari ilmu hukum yang telah ada, tapi juga Notaris dan PPAT harus dapat mengembangkan sendiri teori-teori untuk menunjang pelaksanaan tugas jabatan Notaris dan PPAT dan pengalaman-pengalaman yang ada selama menjalankan tugas jabatan Notaris dan PPAT dapat diangkat sebagai teori-teori untuk dunia Notaris dan PPAT.

Kata pengantar
Daftar isi

Bab I Karakter yuridis jabatan notaris

Bab II Karakter yuridis akta notaris

Bab III Mem-PTUN-kan keputusan Majelis Pengawas Notaris (MPN) Daerah
Bab IV Klasifikasi akta notaris yang mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan dan batal demi hukum berdasarkan Undang-Undang Jabatan Notaris (UUJN)

Bab V Notaris Paranoid
Bab VI Bukti waris masih saja berdasarkan etnis
Bab VII Kapankah perjanjian perkawinan dapat dibuat?
Bab VIII Pengangkatan anak, pengakuan anak, dan pengesahan anak dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan

LAMPIRAN

Lampiran I
Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. M.39-PW.07.10 Tahun 2004 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Majelis Pengawas Notaris

Lampiran II
Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia No. M.02.PR.08.10 Tahun 2004 tentang Tata Cara Pengangkatan Anggota, Pemberhentian Anggota, Susunan Organisasi, Tata Kerja dan Tata Cara Pemeriksaan Majelis Pengawas

Lampiran III
Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. M.01.HT.03.01 Tahun 2006, tentang Syarat dan Tata Cara Pengangkatan, Perpindahan, dan Pemberhentian Notaris

Lampiran IV
Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. M.02.HT.03.10 Tahun 2007, tentang Bentuk dan Ukuran Cap/Stempel Notaris

Author: admin